10 Asura Terkuat yang Disebutkan dalam Epos Hindu

602
0

Ajeg.org10 Asura Terkuat yang Disebutkan dalam Epos Hindu. Dalam epos Hindu setiap Asura dan Dewa muncul dari ayah yang sama – Prajapati, berbagi tempat tinggal yang sama – Loka, makan bersama makanan dan minuman yang sama – Soma, dan memiliki potensi bawaan, pengetahuan dan kekuatan khusus; satu-satunya hal yang membedakan Asura dari Dewa adalah niat, tindakan, dan pilihan yang mereka buat dalam hidup mereka.

Beberapa Asura jahat dari Purana sangat cerdas dan beberapa dari mereka sangat bodoh, namun ada beberapa fakta menarik tentang para asura ini menarik untuk diketahui.

Asura Terkuat dalam Epos Hindu

10 Asura Paling Menarik dan Kuat dalam Epik Hindu yang wajib kamu ketahui.

1. Madhu dan Kaithba

Pada permulaan alam semesta, ketika di alam semesta ini belum banyak terdapat ciptaan, Dewa Wisnu tidur diatas naga Ananta Sesa di lautan susu tak bertepi. Saat itulah dua titik debu jatuh dari telinganya ke laut dan sepasang asura muncul dari mereka dan mulai berenang. (Baca juga Kisah Krishna Membunuh Arishtasura)

Tidak mengetahui sekeliling mereka, di mana mereka berada, siapa raksasa yang tertidur di laut itu dan bagaimana mereka sampai di sana, mereka bermeditasi selama berhari-hari dan berbulan-bulan yang panjang dengan hasrat membara untuk menemukan jawaban-jawaban itu. Akhirnya, sedikit musik membangunkan mereka dan mereka melihat ke langit untuk melihat Saraswati yang cantik. Senang dengan pengabdian mereka, dia memberi mereka anugerah untuk memilih kapan dan bagaimana mereka akan mati.

Seperti yang dikatakan dalam Bhagavata Purana, Asura Madhu dan Kaitabha mencuri Veda dari Dewa Brahma dan menyimpannya jauh di dalam perairan samudra purba. Hayagriva manifestasi Dewa Wisnu membunuh mereka dan merebut Veda kembali. setiap tubuh dari Madhu dan Kaitabha di bagi menjadi 6 yaitu sehingga total menjadi dua belas buah (dua kepala, dua dada, empat lengan, dan empat kaki). Bagian tubuh dari Madhu dan Kaitabha dianggap mewakili dua belas lempeng seismik bumi.

2. Rahwana

Antagonis utama dalam epik Ramayana, raja Asura Rahwana, meskipun tidak diketahui banyak orang, ia juga dikenal karena penaklukan spiritual dan pengetahuan ilmiahnya. Menurut beberapa orang yang percaya bahwa Rahwana dianggap sebagai penulis asli Kitab Lal, kitab prinsip astrologi dan seni ramal tapak tangan Hindu.

Rahwana merupakan seorang pejuang yang ganas dan administrator yang hebat, dia juga adalah seorang musisi yang hebatnya. Didalam cerita, ketika Rahwana memainkan Veena-nya, bahkan para Dewa akan muncul untuk mendengarkan musiknya.

Nadi Shastra berbicara tentang Rahwana sebagai seorang ahli dalam kitab Ayurveda dan tokoh penting dan pemimpin dalam konferensi medis yang diadakan pada masa itu.

Beberapa saat sebelum kematiannya yang tak terelakkan, Rama telah meminta Lakshamana untuk memberi hormat kepada Rahwana dan mempelajari metode pemerintahan dan administrasi yang tepat,Rahwana akhirnya mememberikan Lakshamana pengetahuannya.

3. Vritra

Vritra, ular atau naga Asura, dan juga penyebab kekeringan, personifikasi dari bencana alam yang mengerikan, dianggap sebagai musuh terbesar yang harus dihadapi Indra, Raja Surga. Ia muncul sebagai naga yang menghalangi aliran sungai dan secara heroik dibunuh oleh Indra.

Seperti yang dikatakan Rig Veda, Vritra menahan seluruh perairan di dunia sampai dia dibunuh oleh Indra, yang pada gilirannya menghancurkan 99 benteng istana Vritra sebelum Indra membebaskan sungai yang dipenjara Vritra.

Pada saat pertempuran, Vritra mematahkan kedua rahang Indra. Tetapi kemudian Vritra dilempar jatuh oleh Indra dan dalam kejatuhannya menghancurkan benteng-benteng istananya. Untuk keberhasilan ini, Indra dikenal sebagai Vritrahan “Pembunuh Vritra” dan juga sebagai “pembunuh anak sulung naga”.

4. Meghanada – Indrajit

Meganada Indrajit

Meghanada dikenal juga sebagai Indrajit, lahir dari Raja Lanka, Rahwana dan istrinya Mondadori.

Indrajit adalah penakluk Indra Loka, dan menurut beberapa catatan dianggap sebagai pejuang terhebat sepanjang masa. Seorang pejuang Marathi perkasa yang memiliki Bhramastra yang maha kuasa, senjata yang diciptakan oleh Brahman, yang tertinggi dari semuanya.

Indrajit memainkan peran penting dalam perang besar antara Rama dan Rahwana. Indrajit adalah anak tertua dari Rahwana dari istrinya Mandodari.

Dia meninggal secara heroik setelah beberapa hari pertempuran sengit. Lakshmana akhirnya berhasil menembakkan Indrastra, yang akhirnya memotong kepala Indrajit dari tubuhnya dan membawanya pergi.

Menurut beberapa sloka, Lakshmana juga memutuskan lengan Indrajit, yang jatuh di depan istrinya Sulochana, yang membuat lengan menjadi hidup karena kekuatan pengabdiannya kepada suaminya dan mengetahui tentang kematian heroiknya di medan perang ketika lengan Indrajit menulis keadaan seluruh peristiwa dalam pertempuran tersebut.

Rama memperlakukan tubuh Indrajit yang telah meninggal dengan hormat dan mengembalikan tubuhnya ke Lanka untuk mendapatkan pemakaman yang terhormat.

5. Hiranyakashipu

Hiranyakasiphu merupakan Raja Asura merupaka raja dari Daitya. Hiranyakashipu memperoleh anugerah dari Brahma. Anugerah Brahma menjadikan dia manusia yang tidak dapat dibunuh oleh siapapun, senjata apapun, baik itu didalam maupun diluar ruangan, tidak dapat dibunuh baik itu pagi, siang maupun malam.

Seiring berjalannya waktu, dia menjadi sombong dan menuntut agar semua menyembah dia dan hanya dia yang menganggap dirinya sebagai dewa yang terbesar. Ketika Prahlada, putranya sendiri menolak untuk melakukannya. menurut cerita dia beberapa kali mencoba pembunuhan Prahalada. Hiranyakashipu kemudian dibunuh oleh Narasimha Avatara Dewa Wisnu.

6. Raktabija

Asura yang kuat seperti yang disebutkan dalam kitab suci Hindu, dia bertarung bersama Shumbha dan Nishumbha. Bersama kedua bersaudaranya Raktabija berusaha untuk menaklukkan ketiga dunia, melawan Dewi Durga dan Dewi Kali.

Seperti yang diceritakan, Raktabija mendapat anugerah bahwa setiap kali setetes darahnya jatuh ke tanah, tubuhnya yang lain akan lahir di tempat itu.

Raktabija mampu merekonstruksi tubuhnya, “Dia yang setiap tetes darahnya adalah benih”, adalah arti dari kata Raktabija.

Dewi Kali, yang bergabung dalam pertempuran di babak kedua, menjulurkan lidahnya ke atas bumi dan menjilat setiap tetes darah yang mengalir dari tubuh Raktabija sementara Dewi Durga melukainya. Kali melahap semua tubuh yang muncul ditanah ke dalam mulutnya yang menganga. Akhirnya, Raktabija dimusnahkan.

7. Rahu

Ketika Dewa Wisnu yang menipu para Ashura dari pembagian Amrita pada saat Samudra Mantan,  di mana para Deva dan Asura telah mengaduk gunung bersama-sama, Rahu Ketu, menyamar sebagai dewa dan minum amrita.

Namun, karena secara natural yang bercahaya, dewa matahari Surya dan dewa bulan Chandra dengan cepat mengetahui bahwa ada Asura yang menyamar sebagai dewa.

Tetapi sebelum amerta tersebut bisa melewati tenggorokannya, Dewa Wisnu yang menyamar sebagai Mohini memotong kepalanya dengan cakra ketuhanannya, Cakra Sudarshana.

Tetapi karena nektar telah masuk ke tenggorokannya, dia tidak mati. Sejak saat itu, kepalanya disebut Rahu, dan tubuhnya disebut Ketu. Kemudian Rahu dan Ketu menjadi planet.

8. Hiranyaksha

Hiranyaksha, memiliki arti “Bermata Emas”. Hiranyaksha adalah Asura penindas yang menyerang surga dan kemudian menculik dan bahkan berusaha untuk menghancurkan dewi Bumi.

Seperti yang diceritakan di beberapa Purana, ia lahir dari Diti dan Kashyapa. Kashyapa adalah seorang Maharesi yang merupakan ayah dari para Deva, Asura, Naga, dan seluruh umat manusia.

Setelah Hiranyaksha menyerang Ibu Pertiwi yang tak berdaya, menariknya jauh ke dalam samudra kosmik, Dewa memohon kepada Wisnu untuk menyelamatkan dewi bumi dan semua kehidupan.

Wisnu mengambil awatara Varaha setengah manusia, setengah babi untuk menyelamatkan dewi Pertiwi. Dia dibunuh oleh Dewa Wisnu ketika dia berusaha menghalangi jalan Wisnu.

9. Banasura

Banasura dalam epos Hindu adalah raja asura berlengan seribu dan putra Bali yang diyakini telah memerintah Assam tengah saat ini. Begitu kuat dan ganasnya pengaruhnya sehingga semua raja dan bahkan beberapa dewa takut terhadap kekuatannya. Seorang pemuja Siwa yang taat menggunakan seribu lengannya untuk memainkan Mridanga saat Siwa menampilkan tarian Tandava. (Baca juga Kisah Banasura dan Pertempuran Antara Krishna vs Siwa)

Seperti dalam cerita, dengan anugerah dari Dewa Siwa bahwa dia sendiri yang akan melindungi Banasura, Banasura menjadi tak terkalahkan. Namun seiring berjalannya waktu, Banasura menjadi kejam dan sombong.

Dia mengurung putrinya, Usha di sebuah benteng bernama Agnigarha karena banyak yang ingin melamar dan menjadikannya istri.

Suatu hari, Usha melihat seorang pemuda dalam mimpinya dan jatuh cinta padanya, dia adalah Aniruddha, cucu Dewa Krishna. Aniruddha diculik dari istananya dan diserahkan kepada Usha.

Hal ini menyebabkan pertempuran antara Krishna dan Banasura. Dewa Siwa datang untuk menyelamatkan pemuja tetapi ditidurkan oleh Krishna. Setelah itu, Sri Krsna mulai memotong lengan Banasura dan memotong semuanya kecuali dua. Sementara itu, Dewa Siwa sadar kembali dan meminta agar Krishna mengampuni nyawa pemuja nya. Banasura juga meminta maaf kepada Krishna dan dia diampuni. Aniruddha kemudian menikah dengan Usha.

10. Bhasmasura

Asura yang kuat dalam epos Hindu, dia mendapat anugerah dari Dewa Siwa yang memberinya kekuatan untuk mengubah siapa pun yang kepalanya sentuh olehnya akan menjadi abu (bhasma). Shiva mengabulkan permintaan ini, tetapi Bhasmasura kemudian berusaha untuk menyentuh kepala Shiva dengan tangannya karena dia melihat Parvati dan ingin memilikinya, yang hanya mungkin terjadi ketika dia mengubah Shiva menjadi abu. Shiva melarikan diri, dan dikejar oleh Bhasmasura. Entah bagaimana, Siwa berhasil mencapai Wisnu untuk mencari solusi atas kesulitan ini.

Wisnu, dalam wujud Mohini, muncul di depan Bhasmasura. Mohini sangat cantik sehingga Bhasmasura langsung jatuh cinta pada Mohini. Bhasmasura memintanya untuk menikah dengannya. Mohini mengatakan kepadanya bahwa dia sangat suka menari, dan akan menikah dengannya hanya jika dia bisa menyamai gerakannya sama persis. Sambil menari, Mohini melakukan pose dimana tangannya diletakkan di atas kepalanya sendiri. Saat Bhasmasura menirunya, dia ditipu untuk menyentuh kepalanya sendiri, dan karena itu dia berubah menjadi abu.

Tonton juga Pertarungan Hanuman VS Siwa, Asmaweda Yagna Sri Rama

Recent search terms:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here