Parasurama, Brahmana Ksatria Penumpas Para Ksatria

323
0

Parashurama (Sansekerta: परशुराम, IAST: Paraśurāma, lit. Rama dengan kapak) adalah awatara keenam Wisnu. Parashurama adalah salah satu chiranjeevis yang akan muncul di akhir Kali yuga untuk menjadi guru awatara Wisnu ke sepuluh dan terakhir yaitu Kalki. (Baca juga Dashavatara 10 Awatara Wisnu)

Secara harfiah, nama Parashurama bermakna “Rama yang bersenjata kapak”. Nama lainnya adalah Bhargawa yang bermakna “keturunan Maharesi Bregu”. Ia sendiri dikenal sebagai awatara Wisnu yang keenam dan hidup pada zaman Tretayuga.

Pada zaman ini banyak kaum kesatria yang berperang satu sama lain sehingga menyebabkan kekacauan di dunia. Maka, Wisnu sebagai dewa pemelihara alam semesta lahir ke dunia sebagai seorang brahmana berwujud angker, yaitu Rama putra Jamadagni, untuk menumpas para kesatria tersebut.

Dia membawa sejumlah sifat, termasuk agresi, peperangan dan keberanian; juga, ketenangan, kehati-hatian dan kesabaran. Seperti inkarnasi Wisnu lainnya, ia diramalkan akan muncul pada saat kejahatan yang merajalela di bumi. (Baca juga: 19 Awatara Dewa Siwa)

Kelas Kshatriya, dengan senjata dan kekuasaan, mulai menyalahgunakan kekuasaan mereka, mengambil milik orang lain dengan paksa dan menganiaya orang. Parashurama menjaga keseimbangan kosmik dengan menghancurkan para pejuang Kshatriya ini. Parashurama juga Guru Bhishma, Dronacharya, dan Karna. Ia juga disebut sebagai Rama Jamadagnya, Rama Bhargava dan Veerarama dalam beberapa teks Hindu.

Kisah masa muda

Parasurama merupakan putra bungsu Jamadagni, seorang resi keturunan Bregu. Itulah sebabnya ia pun terkenal dengan julukan Bhargawa. Sewaktu lahir Jamadagni memberi nama putranya itu Rama. Setelah dewasa, Rama pun terkenal dengan julukan Parasurama karena selalu membawa kapak sebagai senjatanya. Selain itu, Parasurama juga memiliki senjata lain berupa busur panah yang besar luar biasa. (Baca juga: 10 Fakta Menarik dari Balarama)

Sewaktu muda Parasurama pernah membunuh ibunya sendiri, yang bernama Renuka. Hal itu disebabkan karena kesalahan Renuka dalam melayani kebutuhan Jamadagni sehingga menyebabkan suaminya itu marah. Jamadagni kemudian memerintahkan putra-putranya supaya membunuh ibu mereka tersebut. Ia menjanjikan akan mengabulkan apa pun permintaan mereka. Meskipun demikian, sebagai seorang anak, putra-putra Jamadagni, kecuali Parasurama, tidak ada yang bersedia melakukannya. Jamadagni semakin marah dan mengutuk mereka menjadi batu.

Parasurama sebagai putra termuda dan paling cerdas ternyata bersedia membunuh ibunya sendiri. Setelah kematian Renuka, ia pun mengajukan permintaan sesuai janji Jamadagni. Permintaan tersebut antara lain, Jamadagni harus menghidupkan dan menerima Renuka kembali, serta mengembalikan keempat kakaknya ke wujud manusia. Jamadagni pun merasa bangga dan memenuhi semua permintaan Parasurama.

Menumpas kaum kesatria

Lukisan Parasurama yang sedang memotong seribu lengan Raja Arjuna Kartawirya (Arjuna Sahasrabahu).

Pada zaman kehidupan Parasurama, ketenteraman dunia dikacaukan oleh ulah kaum kesatria yang gemar berperang satu sama lain. Parasurama pun bangkit menumpas mereka, yang seharusnya berperan sebagai pelindung kaum lemah. Tidak terhitung banyaknya kesatria, baik itu raja ataupun pangeran, yang tewas terkena kapak dan panah milik Rama putra Jamadagni. (Baca juga: Hanuman Yang Perkasa, 10 Fakta Menarik Hanuman)

Konon Parasurama bertekad untuk menumpas habis seluruh kesatria dari muka bumi. Ia bahkan dikisahkan telah mengelilingi dunia sampai tiga kali. Setelah merasa cukup, Parasurama pun mengadakan upacara pengorbanan suci di suatu tempat bernama Samantapancaka. Kelak pada zaman berikutnya, tempat tersebut terkenal dengan nama Kurukshetra dan dianggap sebagai tanah suci yang menjadi ajang perang saudara besar-besaran antara keluarga Pandawa dan Korawa.

Penyebab khusus mengapa Parasurama bertekad menumpas habis kaum kesatria adalah karena perbuatan raja Kerajaan Hehaya bernama Kartawirya Arjuna yang telah merampas sapi milik Jamadagni. Parasurama marah dan membunuh raja tersebut. Namun pada kesempatan berikutnya, anak-anak Kartawirya Arjuna membalas dendam dengan cara membunuh Jamadagni. Kematian Jamadagni inilah yang menambah besar rasa benci Parasurama kepada seluruh golongan kesatria.

Kisah Parasurama Penumpas Ksatria

Menurut legenda Hindu, Parashurama lahir dari Rsi Jamadagni dan istri Ksatria nya, Renuka, tinggal di sebuah pondok.

Tempat kelahirannya diyakini berada di puncak perbukitan Janapav di Indore, Madhya Pradesh.

Di atas perbukitan tempat tinggalnya terdapat kuil Siwa di mana Parshurama diyakini telah memuja Dewa Siwa. Ashram tempat tinggal Parashurama dikenal sebagai Jamadagni Ashram, dinamai menurut nama ayahnya.

Rsi Jamadagni memiliki seekor sapi surgawi bernama Surabhi yang memberikan semua hal yang mereka inginkan. Surabhi merupakan putri sapi kamadhenu.

Seorang raja bernama Kartavirya Arjuna mendengar bahwa Rsi Jamadagni memiliki sapi yang dapat memberikan segala keinginan dan menginginkannya. Dia meminta Jamadagni untuk memberikannya, tapi sang Rsi itu menolak.

Saat Parashurama berada jauh dari tempat tinggalnya, raja mengambilnya dengan paksa. Parashurama mengetahui tentang kejahatan ini, dan marah. Dengan kapak di tangannya, dia menantang raja untuk berperang. Mereka bertarung, dan Parushama dapat membunuh raja Kartavirya Arjuna.

Setelah Parashurama membunuh Kartavirya Arjuna, Parashurama kembali ke ayahnya dengan sapi Surabhi dan memberitahunya tentang pertempuran yang terjadi.

Sang Rsi tidak memberi selamat kepada Parashurama, tetapi menegurnya dengan menyatakan bahwa seorang Brahmana tidak boleh membunuh seorang raja. Dia memintanya untuk menebus dosanya dengan pergi melakukan Tirta yatra.

Setelah Parashurama kembali dari Tirta Yatra, dia diberitahu bahwa ketika dia pergi, ayahnya dibunuh oleh para ksatria yang ingin membalas dendam.

Parashurama kembali mengambil kapaknya dan membunuh banyak ksatria sebagai pembalasan.

Bertemu awatara Wisnu lainnya

Meskipun jumlah kesatria yang mati dibunuh Parasurama tidak terhitung banyaknya, tetapi tetap saja masih ada yang tersisa hidup. Antara lain dari Wangsa Surya yang berkuasa di Ayodhya, Kerajaan Kosala. Salah seorang keturunan wangsa tersebut adalah Sri Rama putra Dasarata.

Pada suatu hari Rama berhasil memenangkan sayembara di Kerajaan Mithila untuk memperebutkan Sita putri negeri tersebut. Sayembara yang digelar ialah yaitu membentangkan busur pusaka pemberian Siwa. Dari sekian banyak pelamar hanya Sri Rama yang mampu mengangkat, bahkan mematahkan busur tersebut.

Suara gemuruh akibat patahnya busur Siwa sampai terdengar oleh Parasurama di pertapaannya. Ia pun mendatangi istana Mithila untuk menantang Rama yang dianggapnya telah berbuat lancang.

Sri Rama dengan lembut hati berhasil meredakan kemarahan Parasurama yang kemudian kembali pulang ke pertapaannya. Ini merupakan peristiwa bertemunya sesama awatara Wisnu, karena saat itu Wisnu telah menjelma kembali sebagai Rama sedangkan Parasurama sendiri masih hidup. Peran Parasurama sebagai awatara Wisnu saat itu telah berakhir namun sebagai seorang Ciranjiwin, ia hidup abadi.

Pada zaman Dwaparayuga Wisnu terlahir kembali sebagai Kresna putra Basudewa. Pada zaman tersebut Parasurama menjadi guru sepupu Kresna yang bernama Karna yang menyamar sebagai anak seorang brahmana.

Setelah mengajarkan berbagai ilmu kesaktian, barulah Parasurama mengetahui kalau Karna berasal dari kaum kesatria. Ia pun mengutuk Karna akan lupa terhadap semua ilmu kesaktian yang pernah dipelajarinya pada saat pertempuran terakhirnya. Kutukan tersebut menjadi kenyataan ketika Karna berhadapan dengan adiknya sendiri, yang bernama Arjuna, dalam perang di Kurukshetra.

Parasurama diyakini masih hidup pada zaman sekarang. Konon saat ini ia sedang bertapa mengasingkan diri di puncak gunung, atau di dalam hutan belantara.

Tonton juga Jarasandha Musuh Utama Krishna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here