Pernikahan Samba, Balarama Menghancurkan Hastina Pura

340
0

AjegPernikahan Samba, Balarama Menghancurkan Hastina Pura. Duryodana, anak Dhrtarastra, memiliki seorang putri yang bernama Laksmana. Duryodhana mengadakan upacara svayamvar (sayembara) untuk Laksmana sehingga putrinya itu dapat memilih suaminya sesuai dengan pilihan sendiri. Dalam svayamvara Laksmana, Samba muncul. (Baca juga Samba: Putra Krishna yang Mengakhiri Dinasti Yadava)

Samba adalah putra dari Shri Krishna dengan Jambavati, salah satu istri Krishna. Samba adalah seorang putra yang terkenal sangat buruk/nakal, dan dia selalu tinggal dekat dengan ibunya. Dalam swayamvar tersebut, Samba sangat menginginkan putri Duryodana, namun Laksmana tidak mau memilih Samba dalam swayamvar. Oleh karena itu Samba menculik Laksmana. (Baca juga )

Karena Laksmana diambil paksa, semua anggota dinasti Kuru antara lain Dhrtarastra, Bhisma, Widura dan Arjuna, berpikir bahwa ini merupakan penghinaan terhadap tradisi wangsa Bharata. Mereka semua tahu bahwa Laksmana sama sekali tidak cenderung untuk memilih dia sebagai suami dan bahwa dia tidak diberi kesempatan untuk memilih suaminya sendiri.

Oleh karena itu, mereka memutuskan bahwa Samba harus ditangkap dan dihukum atas perbuatannya itu. Dinasti Kuru, terutama para pejuang besar, bergabung bersama-sama untuk memberi pelajaran kepada Samba dan Karna diangkat menjadi komandan dalam pertempuran kecil ini. (Baca juga )

Sementara rencana untuk menangkap Samba sedang berlangsung, pertimbangan-pertimbanganpun muncul diantara para tetua Bharata, mereka berpikir bahwa dengan penangkapan Samba, para anggota dinasti Yadu (Yadawa) akan sangat marah.

Ada kemungkinan Yadawa sependapat dengan kita dan menyerahkan Samba. Tapi mereka juga bisa berbalik berperang melawan kita untuk menyelamatkan Samba. Dan kita harus siap dengan pertempuran itu.

Setelah berkonsultasi dan mendapat izin dari para tetua dinasti Kuru, seperti Bhisma dan Dhrtarastra, enam prajurit besar – Bhisma, Karna, Sala, Bhurisrava, Yajnaketu dan Duryodana. Semua maharathi itu dipandu oleh pejuang besar Bhisma, berusaha menangkap Samba. (Baca juga Vishnu Astra, Senjata Dahysat Dewa Wisnu)

Samba juga adalah maharathi, tapi ia sendirian dan harus berperang melawan enam maharathi dari Hastinapura. Ia tidak gentar ketika berhadapan dengan semua pejuang besar dinasti Kuru yg ingin menangkapnya. Ia menghadap ke arah musuh dan mengambil busurnya, berpose persis seperti singa, berdiri sendiri menghadapi hewan lain.

Karna memimpin pasukan, dan dia menantang Samba. Segera setelah Samba menerima tantangan dan berdiri sendirian, ia dihujani anak panah oleh semua prajurit besar. Sebagai seekor singa yg tidak pernah takut dikejar-kejar oleh banyak serigala, Samba sebagai putra Krishna, putra dari dinasti Yadu yg diberkahi dengan potensi tak terbayangkan, menjadi sangat marah kepada para pejuang dinasti Kuru.

Pertama-tama, ia memanahkan 6 anak panahnya ke setiap 6 kereta perang. Setiap empat anak panah digunakan untuk membunuh 4 kuda disetiap kereta perang. Satu panah digunakan untuk membunuh setia sais kereta dan satu anak panah mengarah ke Karna dan ke yg lainnya.

Pertarungan begitu sengit, Samba seorang diri bertempur melawan enam prajurit besar. Bahkan di tengah-tengah pertempuran, mereka terus terang mengakui kehebatan Samba. Singkat cerita, dengan susah payah dan pertarungan berat, Samba yang kehilangan keretanya akhirnya tertangkap.

Dengan demikian, para pejuang dinasti Kuru memperoleh kemenangan dan berhasil merebut kembali putri mereka, Laksmana dan dibawanya kembali ke kota Hastinapura.

Rsi swargaloka yang bijak yaitu Narada segera membawa berita ke dinasti Yadu bahwa Samba ditangkap dan menceritakan seluruh kejadiannya. Para anggota dinasti Yadu menjadi sangat marah karena Samba ditangkap, dan tidak benar Samba seorang diri melawan enam prajurit besar.

Dengan izin dari raja dinasti Yadu, Raja Ugrasena, mereka siap untuk menyerang ibukota Hastinapura. Balarama tidak setuju akan adanya peperangan dua dinasti besar, dinasti Kuru dan dinasti Yadu.

Dengan alih-alih mendukung peperangan tersebut, ” Dia berkata, ” biarkan Aku pergi ke sana untuk melihat situasi , dan biarkan Aku mencoba untuk melihat apakah pertarungan besar ini dapat diselesaikan dengan saling pengertian. ”

Ide Balarama adalah jika dinasti Kuru bisa dibujuk untuk melepaskan Samba dan Laksmana, maka pertempuran bisa dihindari. Karena itu ia segera menaiki keretanya untuk pergi ke Hastinapura, didampingi oleh brahmana serta oleh beberapa tetua dari dinasti Yadu.

Ia yakin bahwa para tetua dinasti Kuru akan menyetujui pernikahan ini dan menghindarkan pertempuran. Ketika Balarama sudah berada disekitar kota Hastinapura, ia tidak masuk ke kerajaan, tetapi ia tinggal disebuah kamp di luar ibukota kerajaan. Kemudian ia memerintahkan Uddhava untuk bertemu dengan semua orang-orang penting Dinasti Kuru, termasuk Bhisma, Dhrtarastra, Dronacarya, Duryodhana dan Bahlika.

Para pemimpin dinasti Kuru, terutama Dhrtarastra dan Duryodana, sangat gembira mendengar berita bahwa Balarama berada di Hastinapura dan bergegas mengambil semua perlengkapan penyambutan.

Mereka menyambut Balarama dengan memberinya sapi-sapi dan Arghya (benda-benda seperti air suci, madu, mentega, bunga, karangan bunga dan wangi-wangian). Dan ketika formalitas penyambutan tersebut selesai, Balarama dengan suara besar, tegas & nada memerintah menyampaikan maksud kedatangannya. “Hari ini saya datang sebagai utusan Raja Ugrasena.

Raja Ugrasena tahu betul bahwa prajurit dari dinasti Kuru telah bertempur dengan Samba yang sendirian. Kami semua telah mendengar kabar itu, tapi kami tidak tersinggung karena kerajaan kita memiliki hubungan yang erat, dan kami tidak berniat untuk mengganggu hubungan baik kita.

Kita harus terus bersahabat tanpa adanya pertempuran yang dirasa sangat tidak diperlukan. Oleh karena itu, kami memohon untuk segera membebaskan Samba dan biarkan dia membawa serta Laksmana. ”

Ketika Balarama berbicara dengan nada seperti itu, ia tidak dihargai oleh para pemimpin dinasti Kuru. Sebaliknya, semua dari mereka menjadi gusar dan marah besar dengan mengucapkan kata-kata menghina.

Meskipun Balarama terlihat sabar mendengar kata-kata hinaan dan hanya mengamati perilaku tidak sopan mereka, tetapi dilihat dari raut mukanya itu jelas bahwa ia terbakar amarah dan berpikir akan membalas. Gerak-gerik tubuhnya menjadi begitu gusar.

Ia tertawa sangat keras dan berkata :  ” Memang benar bahwa jika seseorang akan menjadi terlalu sombong karena keluarga, kemewahan, kejayaan dan kemajuannya, dia tidak lagi ingin hidup damai tetapi menjadi congkak terhadap orang lain. Karena kemewahan materi seseorang menjadi persis seperti binatang. Sebenarnya aku ingin menyelesaikan masalah ini secara damai meskipun semua anggota dinasti Yadu marah & ingin berperang, termasuk Krishna sendiri.”

“Mereka bersiap menyerang seluruh kerajaan dinasti Kuru, tapi aku menenangkan mereka dan mengambil jalan yg sulit untuk datang ke sini menyelesaikan urusan ini tanpa pertempuran.” Ternyata dinasti kuru masih bersikap seperti ini! Hal ini jelas bahwa mereka tidak ingin penyelesaian damai dan dengan bangga mereka telah berulang kali menghina dinasti Yadu dengan sebutan yg tidak pantas.”

“Sudah jelas sekarang bahwa para pemimpin dari dinasti Kuru telah menjadi sombong atas harta duniawi dan kemewahan. Oleh karena itu, pada saat ini juga, aku akan menghapus seluruh jejak dinasti Kuru. Aku akan menghabisi kalian segera ! ”

Sementara berkata seperti itu, Balarama tampak begitu sangat marah dan tatapannya seakan-akan membakar alam semesta menjadi abu. Ia berdiri kemudian dan mengambil senjatanya (bajak) dan mulai mencolok bumi dengan senjata itu. Dengan cara ini seluruh kota Hastinapura dipisahkan dari bumi. Balarama mulai menyeret kota menuju air yang mengalir dari sungai Gangga. Gempa besar terjadi dan Hastinapura mulai dihancurkan.

Ketika semua anggota dinasti Kuru melihat kotanya akan jatuh ke dalam Sungai Gangga dan mendengar rakyatnya berteriak-teriak dalam kecemasan besar, tanpa menunggu sedetik pun mereka langsung membawa Laksmana dan Samba kehadapan Balarama. Semua anggota dinasti Kuru menghadap Balarama dengan mencakupkan tangan hanya untuk mengemis pengampunan kepada Shri Balarama.

Mereka berkata “wahai Yang Agung mohon mempertimbangkan kami, belas kasihanilah kami yang bodoh ini. Apapun yg Anda lakukan merupakan  suatu bentuk hukuman bagi kami yg hina ini. Kami menyembah Anda wahai Yang Agung. Sekarang kami benar-benar berserah diri kepada Anda. ”

Ketika anggota terkemuka dari dinasti Kuru, kakek Bhisma, Arjuna, Duryodana dan yg lainnya, Balarama segera melunak dan meyakinkan mereka bahwa tidak ada alasan untuk takut dan khawatir.

Kami dengan senang hati menyerahkan putri kami untuk Samba dan akan menikahkan mereka dengan penuh kemegahan. Untuk pertama kalinya dinasti Kuru memberi 1.200 gajah, yang masing-masing berusia enam puluh tahun, 10.000 kuda, 6.000 kereta emas dan 1.000 dayang kerajaan yang dihiasi emas berkilauan.

Balarama, sebagai salah satu anggota yang paling dihormati dari dinasti Yadu, bertindak sebagai wali dari mempelai laki-laki dan sangat senang menerima mahar tersebut. Balarama sangat puas setelah penerimaannya yang megah itu dari dinasti Kuru. Disertai dengan pasangan yang baru menikah, ia kembali ke Dvaraka.

Balarama dengan penuh kebanggaan & kemenangan sampai di Dvaraka, ia bertemu dengan rakyat-rakyat dan semua teman-temannya. Ketika semua berkumpul di balairung istana, Balarama menceritakan seluruh kisah tentang pernikahan Samba & Laksmana, dan mereka tercengang ketika mendengar bagaimana Balarama telah membuat kota Hastinapura bergetar.

Hal ini dibenarkan oleh yogi besar Sukadeva Gosvami bahwa situs Hastinapura sekarang dikenal sebagai New Delhi dan sungai yang mengalir melalui kota itu disebut Yamuna, meskipun pada masa itu dikenal sebagai Sungai Gangga.

Jiva Gosvami itu juga menegaskan bahwa Sungai Gangga dan Yamuna adalah sungai yang sama namun Yamuna mempunyai jalur yang berbeda. Bagian dari Sungai Gangga yang mengalir melalui Hastinapura ke daerah Vrndavana disebut Yamuna.

Bagian lereng dari Hastinapura (New Delhi) yang menuju Yamuna akan tergenang air saat musim hujan dan mengingatkan setiap orang bahwa dahulu kala Balarama pernah menyeret dan melemparkan kota tersebut ke Sungai Gangga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here