Vasuki, Naga Raja Basuki. Ular yang Melilit di Leher Dewa Siwa

341
0

AjegVasuki, Naga Raja Basuki. Ular yang Melilit di Leher Dewa Siwa. Vasuki yang di Indonesia dikenal dengan nama Basuki, adalah raja ular dalam agama Hindu dan Budha. Dia digambarkan memiliki permata bernama Nagamani di kepalanya. Manasa, naga lain, adalah saudara perempuannya. Vāsuki adalah ular Siwa. Ia dikenal dalam mitologi Cina dan Jepang sebagai salah satu dari “delapan Raja Naga Agung” di antara Nanda (Nagaraja), Upananda, Sagara (Shakara), Takshaka , Balavan, Anavatapta dan Utpala. Di beberapa negara Naga Raja disebut Bada longwang China dan Hachidai Ryu dijepang. (Baca juga Ulupi, Putri Naga Istri Arjuna)

Basuki adalah ular milik Dewa Siwa yang dikalungkan di lehernya. Di India, Basuki digambarkan sebagai ular kobra yang kepalanya mengembang seperti siap menyerang. Naga Basuki digambarkan seperti ular (terkadang ada yang menyebutnya manusia ular) yang mengenakan mahkota emas dengan hiasan berlian di kepalanya.

Dikisahkan dalam cerita Adiparwa, bahwa Dewi Kadru yang tidak memiliki anak meminta Resi Kasyapa agar menganugerahinya dengan seribu orang anak. Lalu Bagawan Kasyapa memberikan seribu butir telur agar dirawat Dewi Kadru. Kelak dari telur-telur tersebut lahirlah putera-putera Dewi Kadru. Setelah lima ratus tahun berlalu, telur-telur tersebut menetas. Dari dalamnya keluarlah para naga. Naga yang terkenal adalah Basuki, Ananta, dan Taksaka. (Baca juga Krishna Menaklukkan Kaliya)

Legenda Naga Raja Vasuki (Basuki)

Pengadukan Laut Ksirarnawa

Dalam Adi Parwa yang merupakan bagian dari Asta Dasa Parwa pada Kitab Mahabharata karya Begawan Byasa disebutkan tentang pencarian Tirtha Amarta di Lautan Susu atau Lautan Ksirarnawa.

Karena lautan Ksirarnawa begitu luas, maka dipotonglah Gunung Mandara Giri dengan ditunggangi Kurma (perwujudan Dewa Wisnu berwujud penyu raksasa) untuk mengaduk lautan Ksirarnawa ini oleh para dewa dan raksasa. (Baca juga Kaliya)

Para raksasa disiasati oleh para dewa dan disuruh memegang di bagian kepala naga dan para dewa memegang di bagian ekor. Ketika pemutaran gunung berlangsung, Naga Basuki pusing dan keluarlah bisa berwujud api sehingga para raksasa ini terbakar.

Karena pemutaran gunung ini sangat lama sehingga menimbulkan gesekan, pada gilirannya hutan maupun binatang pun ikut terbakar, sehingga minyak binatang dan tumbuhan menyebabkan prosesi pemutaran menjadi sulit.

Dengan bantuan Dewa Indra hujan pun diturunkan sehingga pemutaran kembali lancar. Dari hasil pemutaran tersebut keluarlah Suweta Kamandalu, Dewi Sri (Laksmi), Kastuba Manik, Kuda Uccaihsrawa, Gajah Airawata, Apsari, Kalpawreksa, Minuman Anggur. Lalu muncullah Danvantari bersama dengan kendi amerta Suweta Kamandalu. Di dalam Suweta Kamandalu inilah ada Tirta Amerta.

Lalu dengan siasat Dewa Wisnu yang menjadi Mohini, Tirta Amarta berhasil di dapatkan kembali. Sebagai ganjarannya, kaum raksasa tidak mendapatkan bagian untuk meminum Tirta Amarta.

Vasuki dan Dewa Siwa

Ada banyak legenda yang terkait dengan Dewa Siwa dan Vasuki. Raja ular Vasuki menganggap dirinya tak bernyawa tanpa Dewa Siwa. Dia seperti hiasan yang melilit leher NeelaKantha (Siwa). (Baca juga 19 Awatara Dewa Siwa)

Seperti yang disebutkan di Purana, pada saat Samudra manthan (lautan susu berputar), sebuah racun mematikan muncul dari laut. Racun ini disebut sebagai halahala. Untuk menyelamatkan semua makhluk dari tiga dunia, tuan harus mengkonsumsi racun ini. Selain Dewa Siwa, beberapa ular yang ada di perairan juga mengonsumsi racun. Vasuki adalah salah satu ular yang memakan halala saat diikat ke gunung Mandara sebagai tali yang digunakan untuk mengaduk. Bahkan setelah mengkonsumsi racun mematikan ini Vasuki tidak mengeluh. Melihat ini, Dewa Siwa terkesan dan memutuskan untuk mengenakan Vasuki (raja sarpas) di lehernya.

Ada legenda lain yang menurutnya Vasuki telah menyerah kepada Dewa Siwa. Jadi sesuai legenda ini selama pengadukan lautan susu, Vasuki putra Maharsi Kashyapa dan Kadru mengkonsumsi racun paling mematikan yang muncul dari lautan. Karena proses pengadukan yang berlebihan, seluruh tubuh Vasuki terluka dan dia tertekan. Dia menyerah kan dirinya dan bersujud kepada Dewa Siwa dan jatuh di kaki-Nya. Vasuki mengatakan berikut ini

“Oh Siwa! Wahai pemimpin para dewa, Pengadukan Samudra Susu yang intens membuat tubuh saya tegang, membuatnya panas dan terluka. Saya entah bagaimana menjadi tidak toleran dan kehilangan semua kekuatan Yoga saya dan memancarkan racun yang telah saya simpan selama jutaan tahun. Saya melanggar kendali diri seluruh klan Yoga Naga Kula. Mengapa ini terjadi, Tuanku? Tolong beri saya pencerahan. ”

Di mana Dewa Siwa tersenyum dengan cinta dan kasih sayang dan berkata: ‘Ketika Anda dipilih dari yang lain sebagai tali untuk memutar gunung Mandara, Anda tidak menyadari ego mengambil alih Anda membuat Anda berpikir “Mereka telah memilih saya. Saya harus menjadi istimewa dan hebat ”. Bagaimanapun Anda telah dihukum oleh memar di sekujur tubuh Anda. Jangan takut. Anda akan dipanggil sekali lagi oleh para dewa dan iblis untuk mengaduk samudera sampai amrita keluar. Aroma amrita akan memberi Anda energi dan memulihkan kekuatan yoga Anda.

Seperti yang dikatakan oleh Dewa Tertinggi Siwa, raja ular Vasuki menerima kembali semua kekuatannya setelah Amrita diaduk keluar dan sejak saat itu dan seterusnya dia menjadi pemuja Dewa Siwa yang paling bersemangat dan merasa rendah hati ketika Dewa Siwa menempatkannya di lehernya.

Cerita legenda lain, Pada saat penghancuran tiga kota terbang Tripuran, Awatara atau perwujudan Dewa Siwa yang bernama Tripurantaka menggunakan busur dengan naga Basuki sebagai tali busurnya. Karena itu, Vasuki melayani Dewa Siwa kapan pun dibutuhkan. Dikatakan bahwa Vasuki selalu siap membantu gurunya, Dewa Siwa.

Asal Usul Selat Bali

Lain halnya di Bali, Naga Basuki merupakan tokoh Mitologi kepercayaan Hindu di Bali dalam kisah asal usul Selat Bali. Dikisahkan Naga Basuki yang berdiam di Gunung Agung menolong seorang pendeta bernama Begawan Sidhi Mantra.

Pada jaman dahulu, Pulau Bali dan Pulau Jawa masih bersatu. Hiduplah seorang Maharsi yang bernama Bagawan Sidhi Mantra. Beliau memiliki seorang anak yang gemar berjudi bernama Manik Angkeran. Karena gemar berjudi, Manik Angkeran terlilit oleh hutang yang banyak.

Sang pendeta merasa kasihan kepada anaknya, Manik Angker yang terlilit hutang karena berjudi. Setelah di tolong, bukannya kapok Manik Angkeran makin menjadi – jadi. Ia bertaruh dengan taruhan yang besar dan ia kembali kalah. Ayahnya, Begawan Sidhi Mantra enggan menolongnya lagi.

Diam – diam Manik Angker mengambil Genta (lonceng) sakti milik Begawan Sidhi Mantra dipakai untuk memanggil Naga Basuki di Gunung Agung. Sampai disana, detelah berhasil memanggil Naga Basuki keluar dari tempat bersemayamnya, Naga Basuki pun memberikan apa yang diinginkan Manik Angker. Karena sifat Manik Angker yang serakah, dia memotong ujung ekor Naga Basuki yang berhiaskan berlian serta batu batu mulia.

Murka, Naga Basuki membakar Manir Angker hingga mati. Begawan Sidhi Mantra merasa sedih dan memohon kepada Naga Basuki untuk menghidupkan kembali anaknya dengan imbalan, sang begawan akan membantu Naga Basuki menyatukan kembali ekornya. Setelah Manik Angker hidup kembali, Begawan Sidhi Mantra pun meninggalkan anaknya di daerah Bali dan memotong akses ke Jawa dengan cara menenggelamkan sebagian area antara Jawa dan Bali.

Tempat Naga Basuki menurut kepercayaan masyarakat Bali terletak di Pura Goa Raja, Kompleks Pura Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem Bali.

Tonton juga Ananta Sesha, Naga Tempat Berbaring Sri Wisnu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here